Selasa, 18 Oktober 2011

Membuka Mata.. Membuka Hati

Membuka Mata.. Membuka Hati dan Menatap Dunia

Berawal dari sebuah perjalanan, kami segelintir anak muda yang penuh dengan harapan dan cita-cita mencoba untuk memberikan sedikit hal dan pengalaman hidup yang kami peroleh di setiap langkah-langkah kecil dalam perjalanan kami.Di awal pagi yang cerah tanggal 16-10-2011 sekitar pukul 09.00 kami memulai perjalanan kami.Untuk melihat sisi lain dari kehidupan dunia yang berbeda.kehidupan yang tidak pernah kami pikirkan sebelumnya yang akhirnya dapat kami lihat sendiri.



            
Bekasi adalah tempat yang pertama kali kami kunjungi.Ikon kota Bekasi yang kita  ketahui adalah ‘Kota Patriot’ yakni Kota yang dijadikan panutan dalam segala aspek.dihadapkan pada tujuan sebagai kota yang dapat di jadikan Pedoman bagi kota lainnya.Bekasi merupakan kota yang telah berkembang dengan segala Aspek termasuk dalam masalah kebersihan lingkungan.



Dan seperti yang kita ketahui Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang terletak di Kota Bekasi.Yang merupakan tempat bertumpuknya Lebih dari 10 juta ton sampah sudah ditimbun di areal TPA milik Pemprov DKI Jakarta yang berlokasi di Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Setiap harinya, tidak kurang dari 6.000 ton sampah baru dibuang ke TPA Bantar Gebang. Bagaimana kita dapat disebut sebagai seseorang yang Cinta terhadap kota sendiri , sedangkan kondisi memprihatinkan tergambar pada kondisi TPA Bantar Gebang yang sangat memprihatinkan.

 
Beberapa langkah kecil kami coba telusuri untuk memenuhi hasrat keingin tahuan kami akan  sisi lain dari kota patriot yang sudah banyak di kenal itu.Begitu banyak hal menyedihkan  ternyata.Tak pernah terlintas dalam benak kami akan kehidupan warga sekitar yang  tinggal di sepanjang TPA ini.Udara yang mereka hirup sangat tidak sehat,keadaan lingkungan hidup yang jauh dari kata baik.Bantar Gebang yang merupakan ‘Surga para Pemulung’ telah mencapai puncak kritis , dimana sampah – sampah yang telah tertumpuk semakin menggunung dan tanpa penanganan dan pengelolaan yang baik, lahan TPA Bantar Gebang yang saat ini seluas 110 hektar lebih itu dikhawatirkan tidak akan mampu menampung sampah lagi dari DKI Jakarta. Selain itu, risiko kebakaran dan longsor di TPA Bantar Gebang setiap waktu terus mengancam.

Inilah potret kehidupan kita yang kurang peka terhadap keadaan lingkungan kita . Seperti pepatah yang mengatakan “ Gajah di Pelupuk Mata tidak terlihat, Semut diujung pulau Terlihat “ . Kebersihan yang seharusnya merupakan sebagian dari Iman , kita acuhkan dan tidak mau tahu atas kejadian ini. Namun , orang – orang yang justru bukan penduduk asli , rela untuk memikirkan nasib dari TPA Bantar Gebang.



1 komentar:

Banner iskaruji dot com
Lentera Informasi 2011. Diberdayakan oleh Blogger.